Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Tampilkan postingan dengan label gugah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gugah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 September 2017

Rekonstruksi peran putakawan dan perpustakaan di era informasi

Rabu, 30 Agustus 2017 Prodi Ilmu perpustakaan UM (Universitas Negeri Malang) mengadakan seminar nasional dan call for paper dengan tema : “Rekonstruksi peran putakawan dan perpustakaan di era informasi". Seminar tersebut diisi oleh 3 pemateri yaitu Dr. Rahma sugihartati, M.Si. Drs. Darmono, M.Si, dan Dr. Agus Rusmana, MA.

Dalam kesempatan Dr. Rahma Sugihartati, M.Si. memberikan pemaparan tentang Dekonstruksi serta Rekonstruksi Pustakawan dan Perpustakaan. Narasumber mengajak para pustakawan untuk mencoba berfikir kritis tentang tatanan yang ada dalam perpustakaan yang di anggap sudah waktunya di rubah. Dalam hal ini menyangkut aturan-aturan perpustakaan yang dianggap kaku. Hal tersebut perlu dibenahi agar perspektif tentang perpustakaan terkesan kaku dan membosankan berubah dibenak pikiran pemustaka. Dalam hal ini peran dekonstruksi yaitu membuat cara pandang baru dalam tatanan perpustakaan. Serta peran rekonstruksi sendiri yaitu melanjutkan peran dekonstruksi guna mewujudkan perpustakaan yang anti mainstream dan fleksibel seiring perubahan sosial masyarakat.
Drs. Darmono sebagai narasumber kedua menguatkan materi dari narasumber yang pertama yaitu pustakawan harus siap dalam menghadapi perkembangan era informasi dan pengetahuan sekarang. Adalah pustakawan dituntut untuk selalu siap sebagai SDM yang unggul dalam melayani informasi-informasi yang up to date kepada pemustaka. Dengan tujuan membangun citra perpustakaan dan citra pustakawan sebagai pelaku jasa informasi.

Narasumber ketiga Dr. Agus Rusmana dalam kesempatannya memberikan beberapa poin tentang komunikasi pustakawan dan akademisi yang merujuk pada perpustakaan perguruan tinggi. Narasumber menekankan bahwa sering terjadi perbedaan persepsi tentang perpustakaan antara pustakawan dan akademisi. Hal ini ditenggarai karena adanya intensifitas komunikasi antara pustakawan dan akademisi yang kurang lancar. Perlu bagi pustakawan mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi berbasis internet. Hal tersebut bertujuan agar persepsi antara kedua belah pihak tidak berseberangan.


Pemaparan dari ketiga narasumber tersebut dapat disimpulkan bahwa pustakawan dalam era sekarang dituntut berfikir kritis dan memiliki pandangan luas agar tidak terbelenggu terhadap arus yang sudah dianggap usang. Dalam pelayanannya perlu ditekankan bahwa pustakawan harus dinamis dan mengikuti perkembangan jaman. Serta pustakawan harus mengutamakan komunikasi kuat terhadap akademisi agar dari pihak akademisi memiliki persepsi sama dengan pustakawan terhadap perpustakaan yang sering dikatakan sebagai jantung perguruan tinggi.

Muhammad Erdiansyah Cholid Anjali

Minggu, 03 September 2017

AWAL DARI MENULIS ADALAH MEMBACA

Menulis merupakan suatu kegiatan dimana kita bisa menuangkan semua  gagasan ide dan pemikiran kita ke dalam bentuk susunan kalimat yang baik dan benar. Menurut Wiji Suwarno dalam acara workshop yang diadakan di Perpustakaan UNS dengan tema “Membudayakan Membaca dan Menulis Melalui Karya Inspiratif” (29/08/2017), menyatakan bahwa dengan menulis, kita mendapatkan berbagai macam manfaat antara lain; 1) nama kita akan sering muncul di google scholar; 2) dapat mempengaruhi banyak kepala dan pemikiran seseorang; 3) dapat ikut serta dalam memberikan masa depan kepada orang lain; dan 4) dapat menyampaikan pemikiran dan ide kita kepada masyarakat luas. Selain itu beliau juga memaparkan tentang prinsip penulis, antara lain:

  • Writing is art, artinya menulis adalah seni. Dengan kita bisa menulis, maka kita memberikan sebuah karya seni kepada setiap orang yang membacanya karena setiap orang menyukai keindahan
  • Writing need audience, artinya menulis membutuhkan audience. Apabila ingin menulis, maka  tentukan terlebih dahulu berapa lama kita bisa menuliskan tulisan tersebut, sehingga kita memiliki target. Setelah itu kita tentukan kira-kira siapa yang akan membaca tulisan tersebut sehingga kita dapat menyesuaikan bahasa dan alur tulisan kita kepada pembaca dengan baik  dan tepat sasaran
  • Writing is easy, artinya menulis itu mudah. Sebenarnya menulis itu merupakan kegiatan yang mudah apabila kita sering membaca buku.
  • Writing is word of heart, artinya menulis adalah sebuah kata hati. Kita dapat menuangkan seluruh emosi yang ada pada diri kita untuk dituangkan ke dalam sebuah bentuk tulisan karena sesungguhnya menulis itu merupakan sebuah kata hati. Ketika kita menulis dengan melibatkan kata hati, maka kandungan dari tulisan tersebut akan sampai kepada pembacanya.
  • Writing is expectation, artinya menulis merupakan sebuah harapan. Ada beberapa orang yang menjadikan menulis sebagai ladang dalam memenuhi kebutuhan  mereka, contohnya: JK Rowling, seorang novelis yang mendapatkan pundi-pundi uang yang didapatkan dari hasil karya tulisannya.


Tidak sedikit orang yang merasakan kesulitan dalam menulis karena berbagai faktor seperti malas, tidak memiliki topik/bahasan, kebiasaan menunda-nunda, atau bahkan takut salah. Hal tersebut perlu dihilangkan dari kebiasaan masyarakat kita yang sudah harus menyesuaikan diri dengan era literasi informasi. Dalam acara tersebut Wiji Suwarno memberikan trik dalam menulis, yaitu: 1) Luangkan waktu, 2) Fokus pada satu ide, 3) Atur konsep, 4) Tulis dan tuangkan apa saja ide pemikiran kita dan hindari untuk mengoreksi, 5) Berhenti pada saat sudah jenuh, 6) Ajak teman untuk berdiskusi, dan 7) Edit setelah semuanya sudah selesai.
Faktor dalam menulis juga dapat dikarenakan kurangnya bahan referensi atau bahan bacaan. Menurut Restu Sukesti dalam acara yang sama menuturkan bahwa awal dari menulis adalah membaca, sehingga orang yang pandai menulis pasti memiliki literasi yang tinggi. Membaca merupakan langkah awal dalam menulis, karena dari hasil membaca tersebut maka kita akan mendapatkan inspirasi, mengetahui susunan dan alur dalam menulis, serta mengetahui bahasa-bahasa tulisan yang baik dan benar sehingga dapat memudahkan kita untuk menulis sebuah tulisan.
Namun berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa tingkat minat baca orang Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan negara-negara di dunia dan hal itu sangat mempengaruhi peran serta masyarakat dalam membuat sebuah tulisan. Maka dari itu proses dalam membangkitkan minat baca masyarakat, yaitu dimulai dari keterpaksaan. Keterpaksaan tersebut nantinya akan menjadi kebiasaan yang harus selalu diulang-ulang, setelah itu kita akan merasa bahwa membaca itu adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan sebagai sebuah rutinitas, hingga pada akhirnya kita akan selalu merasa membutuhkan sebuah buku untuk dibaca setiap harinya. Dari situlah akan muncul stimulus dan mendapatkan inspirasi serta ide dalam membuat sebuah tulisan yang kita inginkan.

Aidilla Qurotianti.  

(Perpustakaan UMY)

Selasa, 22 Agustus 2017

Cara Bergabung di oneseacrh.id


Onesearch.id merupakan sebuah portal pencarian yang mampu mengindeks  katalog, jurnal online, serta repository yang ada di Indonesia. Sampai saat ini sudah ada 559 institusi, dan 675 perpustakan yang bergabung dalam portal tersebut. Banyak keuntungan yang didapat ketika bergabung dalam onesearch.id, diantaranya :
  1. Meningkatkan traffic/pengunjung
  2. Meningkatkan citra perpustakaan
  3. Meningkatkan backlink
Pertanyaannya adalah, syarat apa sajakah yang harus dipenuhi jika ingin bergabung pada onesearch.id?. Silakan kunjungi halaman ini

Ada beberapa aplikasi perpustakaan yang sudah memenuhi persyaratan tersebut, diantaranya adalah aplikasi OJS, SLiMS, Eprints, DSpace, dll. Sehingga ketika sebuah institusi maupun perpustakaan sudah memakai salah satu atau beberapa aplikasi di atas, maka secara otomatis bisa didaftarkan pada onesearch.id.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pada saat proses pendaftaran, yaitu :
  1. Buat akun di onesearch.id
  2. login
  3. Klik institusi
  4. Cari terlebih dulu, apakah institusi anda sudah terdaftar di onesearch.id ataukah belum, jika sudah maka tidak perlu lagi menambahkan, namun sebaliknya jika setelah dicati ternyata belum ada, maka silakan menambahkan institusi tersebut.
  5. Masukkan nama perpustakaan anda. (Contoh : Nama Institusi adalah Universitas Muhammadiyah Pati, sedangkan nama perpustakaannya adalah : Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pati)
  6. Kemudian di dalam perpustakaan tentunya terdapat bermacam - macam sistem, ada sistem katalog, ada sistem jurnal (ojs), dsb, masukkan satu - satu sistem tersebut, dan cari letak OAI-PMHnya.
  7. Submit.
  8. Tunggu beberapa hari agar admin memverifikasi pendaftaran anda.
setelah terdaftar, dan disetuji anda bisa mengambil widget untuk ditampilkan di halaman tertentu.

Senin, 21 Agustus 2017

URGENSI PELAYANAN PRIMA PUSTAKAWAN DI LINGKUNGAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI


Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang mencakup perpustakaan universitas, perpustakaan fakultas dan akademik yang memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membantu perguruan tinggi untuk mencapai tujuannya yang terwujud dari visi dan misi perpustakaan tersebut. Dalam mewujudkan visi dan misi suatu perpustakaan, maka diperlukan evaluasi dari segi fasilitas, bahan pustaka, layanan, khususnya sumber daya manusia yang ada di perpustakaan tersebut. Salah satu wujud keberhasilan perpustakaan dapat dilihat dari jumlah pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan tersebut yang merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh para pustakawan. Untuk mencapai kepuasan pemustaka yang terdiri dari civitas akademika maka pustakawan dituntut untuk memberikan pelayanan yang lebih dari biasa, yaitu pelayanan prima.
Pelayanan prima pustakawan merupakan pelayanan terbaik yang diberikan pustakawan sehingga dapat mencapai tingkat kepuasan pemustaka. Seperti yang kita tahu bahwasanya ujung tombak terpenting dari sebuah peprustakaan terletak pada kualitas pustakawannya. Semakin baik  pelayanan yang diberikan oleh pustakawan, maka semakin tinggi animo pemustaka yang datang ke perpustakaan. Namun terlebih dahulu pustakawan harus mengenali siapa pemustaka yang dilayaninya, karena setiap jenis pemustaka memiliki tingkat keinginan, kebutuhan, dan ekspektasi yang berbeda-beda. Pemustaka perpustakaan perguruan tinggi yang terdiri dari mahasiswa, dosen, maupun masyarakat luar menuntut pustakawan agar selalu memberikan pelayanan prima dengan memahami keinginan dan kebutuhan dari masing-masing pemustaka tersebut. Menurut Maslahah dan Hasanah (2013:255) hal-hal yang terkait dengan pelayanan prima seorang pustakawan harus mempunyai komponen-komponen sebagai berikut:
1)     Mampu melakukan komunikasi yang baik dengan pemustaka dengan cara: (1) Attending, artinya pustakawan dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan baik dalam menyambut kehadiran pemustaka; (2) Listening, artinya  pustakawan dituntut untuk mampu mendengar dan menganalisa dengan cepat apa yang dibutuhkan dan diharapkan  pemustaka; (3) Observing, artinya pustakawan dituntut untuk mampu meneliti dan mengevaluasi apa yang dibicarakan atau diutarakan oleh pemustaka; (4) Clarifaying, artinya pustakawan dituntut untuk  mampu mengklarifikasi atau meluruskan sesuatu yang dianggap kurang tepat kepada pemustaka; dan (5) Responding, artinya pustakawan dituntut untuk mampu memberikan tanggapan atas pertanyaan atau keluhan yang disampaikan oleh pemustaka
2)     Mampu berkomunikasi baik secara verbal (lisan) dan non verbal (tulisan).
3)     Mampu bekerja baik secara individu maupun berkelompok. Pustakawan harus dapat bekerja secara mandiri tanpa mengandalkan atau  bergantung pada orang lain, namun juga harus dapat saling bekerjasama dengan sesama pegawai dalam meningkatkan kemajuan perpustakaan.
4)     Mampu berkomunikasi dengan konsep A3, antara lain: 1) Attitude (sikap),  artinya pustakawan dituntut untuk bersikap dengan baik dan berpenampilan sopan kepada pemustaka, 2) Action (tindakan), artinya pustakawan dituntut untuk memberikan tindakan yang sigap seperti mewujudkan kebutuhan pemustaka , dan 3) Attention (perhatian), artinya pustakawan dituntut untuk dapat memberikan perhatian kepada pemustaka seperti mendengarkan keluhan pemustaka, memahami keinginan pemustaka, dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka.

Untuk dapat meningkatkan pelayanan prima pustakawan yang telah diuraikan di atas, maka sangat diperlukan sebuah pelatihan dan pengembangan kepada para pustakawan secara berkala sehingga mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan baru tentang bagaimana memberikan pelayanan prima kepada pemustaka. Hal  tersebut merupakan wujud dari urgensi perpustakaan perguruan tinggi yang harus selalu mengikuti perkembangan dunia kepustakawanan. Selain meningkatkan jumlah kunjung perpustakaan, penerapan pelayanan prima tersebut akan  meningkatkan integritas perpustakaan tersebut sehingga nantinya dapat mempertahankan atau meningkatkan nilai akreditas dari perpustakaan tersebut.

Oleh:  Aidilla Qurotianti

Referensi:
Maslahah dan Hasanah. 2013. Layanan Perpustakaan Berbasis Humanisme. Surakarta: Perpustakaan IAIN Surakarta.



Minggu, 13 Agustus 2017

Filosofi Gugah Cerah


Kolom ini berisi artikel pendek berupa pemikiran, gagasan yang bersifat MENGGUGAH dan MENCERAHKAN dalam bidang kepustakawanan, Kemuhammadiyahan, dan Islam. Siapapun silahkan memberikan tulisan disini.
Media ini sebagai latihan menulis dan sekaligus sebagai sharing knowledge serta menumbuhkan sikap kritis kepada tenaga perpustakaan PTMA.
Silakan kirimkan tulisan anda melalui email : fpptma@gmail.com, konfirmasi silakan hub 089668077866

           
Judul diatas merupakan penegasan bahwa organisasi kita FPPTMA merupakan organisasi kepustakawanan perguruan tinggi yang memiliki visi yang kompetitif, moto yang jelas, rencana capaian pada tahun tertentu, dan misi yang tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Kebersamaan dalam mencapai tujuan perlu kita pegang teguh. Sebab kita ingin menjalin kerjasama dengan siapapun tanpa membedakan agama, paham, suku, status dalam bidang kepustakawanan/informasi. Untuk itu   kita sudah menjalin kerjasama dengan sesama perpustakaan PTMA, beberapa waktu lalu kami sudah melakukan penjajagan kerjasama dengan PNRI, dan beberapa hari lalu kami juga melakukan penjajagan kerjasama dengan Perpustakaan Universitas Antarbangsa Malaysia/IIUM.
            Dalam kehidupan kita kadang memperbesar perbedaan, mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Bahkan menganggap dirinya yang paling benar. Kiranya sikap kekanak-kanakan ini perlu ditinggalkan. Kiranya dalam mengisi kemerdekaan ini kita perlu menyamakan persepsi, mencari kesamaan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Energi kita telah terbuang percuma dalam perbedaan paham, aliran politik, dan konflik kepentingan. Sudah saatnya   kita yang bergerak di bidang informasi ini untuk mengelola informasi ilmiah secara profesional, terbuka dan  berkemajuan untuk memajukan bangsa kita.
            Kerjasama ini dengan tujuan untuk mencapai/mewujudkan informasi yang berkualitas di tengah-tengah maraknya informasi yang abal-abal ini. Melalui kualitas informasi ini diharapkan bahwa Perpustakaan PTMA ikut berperan serta dalam memajukan bangsa. Kemajuan merupakan katakunci Muhammadiyah untuk mencapai masyarakat Islam yang berkualitas.
            Kita perlu menyadari adanya  ketiduran, kemandegan, hidup dalam lingkaran setan, tidak ada solusi, maupun kejumudan berpikir. Ketiduran ini antara lain dalam manajemen kepustakawanan, gerakan yang stagnan organisasi kepustakawanan kita, belum berani share informasi secara terbuka, masih merasa di bawah dosen, dekan, dan lainnya. Untuk itu kita perlu menggugah dan digugah dari keterbelakangan, kemandegan, bekerja yang itu itu saja.
            Setelah kita bangun dari kemandegan berperilaku dan bertindak, kita perlu memberikan pencerahan dalam bidang kepustakawanan, Kemuhammadiyahan, dan KeIslaman. Memamg kita batasi 3 bidang itu yang sesuai dengan bidang tugas kita. Pembatasan ini untuk menjaga adanya konflik kepentingan dan biar fokus pada bidang tersebut.  
            Untuk menumbuhkan kebersamaan dalam mencapai kemajuan/keunggulan informasi, tiap Perpustakaan PTMA perlu memahami Visi, tagline, dan misi FPPTMA sebagai berikut:

FORUM PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI MUHAMMADIYAH-‘AISYIAH/FPPTMA

Visi
Menjadi organisasi kepustakawanan perguruan tinggi yang Islami, Unggul, dan berkemajuan pada tahun 2032 berdasarkan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan

Tagline
Bersama mencapai keunggulan informasi untuk memajukan bangsa

Milestone

2012 – 2017          Unggul dalam penyelenggaraan dan pengelolaan dan layanan
                              Muhammadiyah Corner
2017 – 2022          Unggul dalam jaringan informasi perpustakaan perguruan
                              tinggi
2022 – 2027          Unggul dalam sumber daya manusia
2027 –2032       Unggul dalam pengelolaan dan layanan informasi   Kemuhammadiyahan, KeIslaman, dan ilmu pengetahuan melalui kerjasama


Misi 
  1. Membantu Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitia dan Pengembangan PP Muhammadiyah/Diktilitbang PP Muhammadiyah, dan Majelis Pustaka PP Muhammadiyah dalam pengembangan  kepustakawanan Perguruan Tinggi Muhammadiyah/PTMA;
  2. Melakukan silaturrahmi  dan membentuk jaringan kerjasama antarperpustakaan PTMA dan perpustakaan lain dalam dan luar negeri;
  3. Berusaha meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kesejahteraan sumber daya manusia perpustakaan PTMA
  4. Membantu upaya peningkatan eksistensi perpustakaan PTMA dalam menunjang caturdharma yakni; pendidikan, penelitian, pengabdian pada masyarakat, dan Al Islam dan Kemuhammadiyahan/AIK.
Lasa Hs.